PNK dan Pendidikan


PNK DAN PENDIDIKAN

WEJANGAN VALEDICTORY PERTAMA
SEMINAR SRI SATHYA SAI
TENTANG NILAI PARENTING


Oleh Bhagavan Sri Sathya Sai Baba
Prashanti Nilayam, 26 Juli 1999


Sadayam Hridayam Yasya Bhasitham Sathya Bhushitham

Kayah Parahithe Yasya Kalisthasya Karothikim

APA YANG BISA DILAKUKAN OLEH PENGARUH JAMAN KALI KEPADA ORANG YANG HATINYA PENUH DENGAN KASIH SAYANG, YANG SETIAP KATA-KATANYA ADALAH KEBENARAN DAN YANG RAGANYA DIPERSEMBAHKAN UNTUK MELAYANI ORANG LAIN

NILAI NILAI KEMANUSIAAN
Manusia harus mengisi hatinya dengan belas kasihan, selalu berbicara kebenaran, dan menggunakan badannya demi untuk kesejahteraan masyarakat. Pikiran, kata-kata, dan perilaku manusia harus selalu suci. Hati tidak dikotori oleh keinginan, kemarahan, mulut tidak dicemari oleh ketidakbenaran dan badan tak ternoda oleh tindakan kekerasan – inilah kebenaran nilai-nilai kemanusiaan. Karena merosotnya nilai-nilai kemanusiaan ini, maka negara menghadapi kesulitan-kesulitan sekarang ini. Orang tua dan guru harus menggarisbawahi kenyataan bahwa hanya siswa yang dapat melestarikan kegemilangan abadi Bharata, yang merupakan permata rumah spiritual, tetapi kini menjadi tempat kenikmatan duniawi yang bersifat sementara. Seperti halnya para orang tua yang sedih melihat anak-anaknya tertinggal dalam studinya, demikian pula para Ibu merasa duka akan putra-putrinya yang mengalami kemerosotan nilai-nilai moral dan etika. Harus diingat bahwa orang-orang yang anda contoh sebagai warga teladan dan orang yang mulia sebelumnya adalah seorang murid juga. Jangan pernah lupa bahwa para murid tersebut sekarang ini adalah warga negara dan pemimpin pada masa depan.

KEBUDAYAAN DAN NILAI-NILAI
Nilai seseorang tergantung pada kebudayaannya. Makna sesungguhnya kata “kebudayaan” terletak pada penghapusan pikiran dan tindakan buruk dan mengembangkan pikiran suci serta perbuatan mulia. Negara bukanlah hanya sebidang tanah semata, tetapi merupakan kumpulan orang-orang. Agar negara berkembang, maka rakyatnya harus menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan spiritual. Rakyat dan pemimpinnnya tidaklah mungkin mengembangkan nilai-nilai tersebut kalau mereka tidak mempraktekkannya semenjak masa anak-anak. Hidup jadi tak berguna jika kita tidak mempraktekkan kebajikan sejak kecil. Murid-murid jaman modern tidak bisa memperbaiki kehidupannya. Karena itu, para orang tua dan guru-guru berperan aktif dalam membentuk kehidupan murid-muridnya. Yang pertama dan utama mereka harus berusaha untuk menghilangkan kecenderungan negatif sang murid.

Sebuah batu besar menjadi benda yang menawan setelah diukir menjadi patung yang cantik, demikian pula para murid menjadi warga yang ideal, bila mereka dididik dalam lingkungan yang benar. Guru dan orang tua yang bertanggung jawab atas baik buruknya sang murid. Namun, sayang sekali mereka belum mengerti akan peranannya dalam membentuk kehidupan mereka.

APA PENDIDIKAN ITU?
Apa itu “vidya”? kata ini berasal dari akar kata “vid” yang berarti “mengetahui”. Vidya diterjemahkan menjadi “pendidikan”. Istilah pendidikan berasal dari bahasa latin “educare” yang berarti “menghilangkan”. Educare mempunyai dua aspek, yang berkaitan dengan duniawi dan spiritual. Pendidikan duniawi memberikan pengetahuan untuk memelihara dunia pisik. Pendidikan spiritual mengembangkan kedewataan batin manusia. Jadi, pendidikan duniawi dan spiritual keduanya sangat penting, tanpa salah satu dari keduanya hidup manusia tidak memiliki nilai. Namun, dalam sistem pendidikan modern spiritual tidak mendapat tempat. Hanya pendidikan duniawi saja yang mendapat prioritas. Agar burung bisa terbang tinggi perlu dua sayap, kereta perlu dua roda untuk bergerak maju, demikian pula dua tipe pendidikan sama-sama perlu agar manusia bisa mencapai tujuannya. Pendidikan spiritual untuk kehidupan, dan pendidikan dunia untuk hidup. Bila manusia dilengkapi oleh dua aspek pendidikan ini, maka ia bisa memperoleh kehormatan dan kemuliaan masyarakat. Memiliki dua aspek pendidikan ini tidak hanya memberikan kehormatan dan pujian, tetapi juga kepuasan diri. Pendidikan duniawi, yang berhubungan dengan otak, bersifat sementara. Membaca, menulis, mencari nafkah, dan mendapat nama serta ketenaran, semua ini hasil dari pendidikan duniawi. Pendidikan duniawi membuat manusia menjadi “hebat”, sedangkan pendidikan spiritual membuat manusia menjadi “baik”. Pendidikan spiritual berkenaan dengan hati, sebagai sumber sifat-sifat suci seperti belas kasihan, kebenaran, ketabahan, dan kasih sayang. Sekarang ini para orang tua mengharapkan anak-anaknya belajar di sekolah yang lebih tinggi, mengumpulkan banyak kekayaan, dan menjadi hebat, tetapi sangat sedikit yang menginginkan anak-anaknya menjadi baik.

Kebaikan adalah abadi, sedangkan kehebatan bersifat sementara. Kebaikan membentuk dasar-dasar kehidupan spiritual. Ada bermiliar-miliar orang hebat dengan mengumpulkan banyak kekayaan, tetapi apa sumbangan mereka terhadap kesejahteraan masyarakat? Nihil total. Karena itu, berusahalah untuk menjadi orang baik, bukannya orang hebat.

Mahasiswa modern mengejar pendidikan menyeberangi belahan bumi untuk mencari pendidikan material tanpa menyadari kenyataan bahwa hati adalah sumber pendidikan yang sesungguhnya, yang ada di dalam diri kita. Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang membuat manusia sebagai manusia ideal (teladan). Orang tua adalah guru yang pertama bagi anak-anak. Karena itu, orang tua harus menunjukkan kepada anak-anaknya jalan kebaikan. Manusia tidak bisa menjadi baik hanya semata karena pendidikannya tinggi. Pendidikan duniawi hanya menganugrahkan artha (kekayaan) dan swartha (ego). Pendidikan yang demikian itu mengakibatkan terjadinya merosotnya manusia. Pendidikan duniawi (bhoutika parijnana) berorientasi pada informasi, sedangkan pendidikan spiritual berorientasi pada transformasi. Pendidikan yang berorientasi pada informasi membuat manusia seperti sebuah komputer. Manusia harus menjadi seorang komposer bukannya komputer.

MEROSOTNYA NILAI-NILAI
Sekarang nilai moral, etika, dan nilai spiritual sudah berada di jurang krisis. Mahasiswa modern tidak memiliki jejak nilai-nilai ini. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada orang tua dan masyarakat. Dalam keadaan demikian ini bagaimana mereka bisa diharapkan akan dihormati oleh anak-anaknya? Kebudayaan kuno menyatakan :

Mathru Devo Bhava, Pithru Devo Bhava, Acharya Devo Bhava, dan Atiti Devo Bhava (Hormatilah Ibu, Bapak, Gurumu, dan Tamumu sebagai Tuhan)

Menghormati dan dihormati. Praktekkan sebelum anda berkotbah. Seorang komposer adalah dia yang mempraktekkan apa yang dia wacanakan.


PENDIDIKAN ASHRAM (PERTAPAAN) VS PENDIDIKAN MODERN (KOTA)
Dalam Mahabharata, ada seorang raja yang bernama Dushyanta. Lahir dan dibesarkan di kalangan istana dia selalu mengejar kehidupan materi dan duniawi. Di sisi lain, putranya yang bernama Bharata yang lahir dan dibesarkan di Kanvashram (pertapaan Resi Kanva) memiliki jiwa moral, spiritual, dan nilai-nilai etika. Ini secara jelas menunjukkan perbedaan antara pendidikan kota dan pendidikan ashrama. Pendidikan ashrama menanamkan semua nilai-nilai mulia dalam diri manusia. Bharata menjadi seorang teladan kebaikan karena ia menerima pendidikan yang ideal langsung semenjak masa kanak-kanak. Ini memungkinkannya kehidupan yang damai, dan tenteram. Itulah sebabnya dinyatakan :

Star early, drive slowly, reach safely
Mulai lebih awal, jalan pelan-pelan, dan sampai di tujuan dengan selamat


NILAI-NILAI DAN PRANA (PRINSIP KEHIDUPAN)

Lima nilai-nilai kemanusiaan seperti sathya, dharma, santhi, prema, dan ahimsa dapat dibandingkan dengan lima dasar kehidupan manusia, yaitu : PRANA, APANA, VYANA, UDANA, DAN SAMANA. Manusia yang sesungguhnya adalah dia yang mempraktekkan kelima nilai-nilai kemanusiaan itu. Sekarang ini manusia tidak mengatakan kebenaran, memungkiri akibatnya dan tidak mempraktekkan dharma karena ia tidak tahu apa makna yang sebenarnya.

Berada pada berbagai situasi kondisi jangan pernah melepaskan nilai-nilai kemanusiaan. Kehilangan salah satu dari kelima nilai tersebut bisa mengakibatkan bunuh diri. Jika anda tidak mengatakan kebenaran, anda telah kehilangan salah satu prinsip hidup anda. Kebenaran adalah atma anda. Karena itu, sampai nafas terakhir peganglah kebenaran itu. Kebudayaan Bharata mengajarkan :

Sathyam vada dharmam chara
(katakan kebenaran dan jalankan kebajikan)

Nilai-nilai ini berlaku sama secara individu dan keseluruhan. Masyarakat dunia berdoa untuk memperoleh kedamaian. Bagaimana kedamaian bisa dicapai? Ia hanya bisa dicapai melalui praktek sathya dan dharma. Sekarang ini manusia menjalankan hidup yang bertentangan dengan sathya dan dharma yang menyebabkan kurangnya kedamaian (santhi), yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya kasih sayang (prema). Kehilangan keempat nilai tersebut mengakibatkan manusia masuk ke dalam kubah kekerasan. Kekerasan muncul di mana-mana, di rumah, di bazar, atau di perusahaan. Manusia, yang telah kehilangan kelima nilai tersebut, tak ubahnya bagai mayat berjalan. Kehidupan harus disuntikkan ke dalam diri manusia, keyakinan kepada Tuhan amatlah penting. Dimanapun ada keyakinan di sana ada Tuhan. Dimanapun ada Tuhan di sana ada kebahagiaan. Kehidupan manusia harus diawali dengan keyakinan dan diakhiri dengan kebahagiaan.

KEYAKINAN ADALAH PENYELAMAT
Masa sekarang, bahkan orang tua dan anak-anak, suami-istri, sudah kehilangan keyakinan dan kepercayaan satu sama lainnya. Kasih sayang yang mereka tunjukkan hanyalah kepura-puraan semata. Bila demikian keadaannya bagaimana kasih sayang bisa tumbuh? Kita harus memiliki keyakinan sepenuh hati agar bisa mengalami kasih sayang yang sesungguhnya. Apa pun yang anda lakukan, lakukanlah sepenuh hati. Isi hatimu dengan belas kasihan. Bila hati diisi dengan kasih, maka semua tindakan dipenuhi dengan kasih pula. Jumsai, dalam percakapannya mengenai PNK sebagai 3HV. H : pertama adalah heart (hati), yang kedua adalah head (kepala), dan yang ketiga adalah hand (tangan). Keharmonisan antara hati, pikiran, dan tangan melambangkan kehidupan manusia yang sebenarnya.

Manasyekam vachasyekam karmayekam mahatmanam
(DIA ADALAH JIWA YANG MULIA YANG PIKIRAN, KATA-KATA, DAN PERBUATANNYA BEGITU HARMONIS)

Manasyanyath, vachasyanyath, karmanyatyath duratmanan
(DIA ADALAH ORANG JAHAT YANG PIKIRAN, KATA-KATA, DAN PERBUATANNYA BERBEDA)

Makna sesungguhnya kata hridayam (hri + daya) menunjukkan kasih sayang (daya). Karena itu, hati harus diisi dengan kasih sayang. Bila ada kasih sayang dalam hati maka semua yang anda katakan adalah kebenaran. Kasih sayang dalam pikiran adalah kebenaran. Kasih sayang dalam tindakan adalah dharma. Kasih sayang dalam rasa adalah kedamaian. Kasih sayang dalam pemahaman adalah ahimsa (tanpa kekerasan). Dengan demikian, kasih sayang adalah dasar dari prinsip kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan tanpa kekerasan.

GURU DAN GURU
Jaman dulu guru disebut acharya, yang berarti mereka yang mempraktekkan apa yang dikatakannya. Sekarang guru tidak dapat dipanggil acharya karena mreka tidak mempraktekkan apa yang mereka katakan. Guru-guru modern ahli dalam memberikan kotbah di mimbar, sedangkan acharya jaman dulu ahli dalam ilmu praktek. Bagaimanan bisa murid-murid menuruti nasehat gurunya, jika sang guru sendiri tidak mempraktekkan apa yang ia katakan? Bila induk sapi merumput di padang rumput, bisakah kita lihat sang anak sapi hanya menonton? Si anak secara alamiah akan mengikuti induknya. Hubungan guru dan murid haruslah seperti induk dan anak sapi itu. Artinya sang guru haruslah memperlakukan sang murid seperti anaknya sendiri. Namun, kini kita tidak temukan hubungan yang demikian itu antara guru dan murid. Keduanya sudah berorientasi pada uang semata. Akibatnya, murid-murid tidak menghormati guru dan guru tidak memiliki kasih sayang kepada muridnya.

PENDIDIKAN YANG MENGEJAR KEUNTUNGAN
Pada banyak jabatan lembaga pendidikan diberikan kepada mereka yang bisa memberi banyak uang. Sistem kuota telah mengkorupsikan lapangan pendidikan. Untuk menghentikan kecenderungan pendidikan yang tidak suci ini, maka harus ditawarkan pendidikan bebas beaya. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan adalah hadiah dari Tuhan. Tak seorang pun mempunyai hak untuk menjualnya. Karena pemerintah juga mendorong komersialisasi pendidikan, maka sistem pendidikan sepenuhnya sudah terkorupsikan. Pendidikan harus membawa kepada peningkatan, bukan agitasi. Sekarang ini, uang bisa membeli ijin masuk, kehadiran, nilai dan bahkan gelar. Pelayanan medis siap diberikan kepada orang yang mau membayar sejumlah 20 –30 laksa. Untuk memperoleh uang para dokter membayar agar mendapat jabatan kesehatan, dokter menarik bayaran yang amat banyak dari pasiennya. Demikian pula halnya para insinyur. Bahkan untuk bisa masuk standar pertama, beberapa lembaga menarik beaya 20 – 25 rupee. Pendidikan modern telah membuat manusia menjadi seorang peminta-minta. Aku mengatakan ini bukanlah karena sombong. Sathya Sai Institute adalah satu-satunya lembaga yang menawarkan pendidikan bebas beaya. Jumsai mengatakan harus dibuat lebih banyak lagi lembaga pendidikan seperti ini. Merupakan suatu kenikmatan, namun harus diberi perhatian untuk mengetahui bahwa pendidikan harus ditawarkan sepenuhnya bebas dari beaya (gratis). Hanya dengan cara demikian, maka kita dapat membentuk murid-murid menjadi warga negara yang ideal. Guru-guru harus membagi ilmunya dengan murid-murid sepenuh hatinya. Mereka harus mempraktekkan sebelum mereka mengatakan. Inilah yang Aku harapkan dari guru. Pendidikan yang diperoleh dengan menyumbangkan banyak uang bukanlah pendidikan sama sekali. Hanya orang-orang yang mempunyai uang haram yang melakukan cara-cara tidak sah seperti itu untuk mendapat gelar. “Lakukanlah untuk negara”(Do [for the] nation), itulah sumbangan (donation) yang sesungguhnya. Gunakanlah pendidikan anda bagi kesejahteraan masyarakat dan negara. Bagilah pendidikan anda dengan orang lain. Anda tidak perlu menjadi guru untuk melakukan itu. Mungkin ada banyak murid miskin di tempat anda. Bukalah kelas khusus sore/ malam untuk mereka. Sekarang ini orang-orang membanting tulang untuk mencari uang dan kekayaan sejak pagi buta sampai larut malam. Mereka melakukan cara-cara korupsi bahkan untuk memperoleh uang satu rupee. Seseorang haruslah hidup tidak semata-mata untuk urusan uang. Lebih baik mati daripada menjalani hidup hanya demi uang. Bila anda memiliki uang lebih, bantulah orang lain, adakan pendidikan gratis, dan pelayanan kesehatan gratis kepada fakir miskin. Di Zambia ada seorang bhakta bernama Victor Kanu. Ia ada di sini sekarang. Ia telah mendirikan Sathya Sai Educational Institution di Zambia. Banyak anak terlantar yang bisa belajar di sana. Keduanya, suami-istri, mengajar anak-anak dengan segala kasih sayang dan penuh perhatiannya. (Pada kesempatan ini, Bhagavan Sri Sathya Sai Baba bertanya kepada Victor Kanu, yang duduk di sebelahnya, tentang berapa anak yang belajar di sekolahnya. Mr. Kanu mengatakan ada 520 anak). Mereka mengajarkan tentang ajaran Swami dan nilai-nilai kemanusiaan kepada semua muridnya. Sekolah ini segera akan menjadi sebuah college.

Ada banyak orang-orang kaya di dunia. Tetapi mereka tidak memiliki semangat pengorbanan untuk membantu lembaga-lembaga yang demikian mulia dan suci itu. Beberapa dari mereka menyumbangkan barang-barang mereka yang tak berharga, namun bertujuan untuk mendapat nama dan ketenaran. Mereka mengharapkan namanya terpampang jelas ditulis dengan tinta emas. Sathya Sai Institution bukanlah tempat untuk mencari nama dan ketenaran. Aku jelaskan sebuah kejadian kecil berkaitan dengan hal ini. Di suatu tempat, ketika Aku mau memberikan wejangan ada seseorang yang mematikan kipas. Aku bertanya kepadanya,”Mengapa anda mematikan kipas?” Kita sedang memerlukannya. Udaranya panas sekali.” Orang tersebut menjawab bahwa ia yang menyumbangkan kipas tersebut, namanya ada pada baling-baling kipas, dan namanya tidak kelihatan bila tidak dimatikan.

PENDIDIKAN DAN NILAI-NILAI BHARATIYA
Kebudayaan Bharata menyatakan :

“Na karmana na prajaya dhanena thyagenaikena amrutathwamanasuhu”
(KEABADIAN HANYA BISA DIPEROLEH MELALUI PENGORBANAN, TIDAK DENGAN KEKAYAAN, KETURUNAN, DAN TINDAKAN BAJIK BISA MENDAPATKANNYA).

Semua aktivitas dan ritual yang anda lakukan haruslah demi kesejahteraan masyarakat. Semua anak-anak anda harus diabadikan untuk beremansipasi kepada negara. Hanya pengorbanan yang menganugrahkan keabadian. Berpartisipasilah pada setiap kerja yang baik sesuai dengan kapasitas anda. Pilih beberapa murid teladan dan berikan pendidikan gratis kepada mereka. Pendidikan bukanlah untuk kemajuan material. Tetapi untuk membuat seseorang sebagai orang ideal, mengalami kebahagiaan, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Semua orang yang lebih tua, yang berpendidikan, yang kaya dan murid-murid harus bekerja sama dan bekerja keras untuk kemajuan pendidikan. Seperti halnya benang yang merangkai aneka kembang untuk membuat sebuah garland, demikian pula rasa kasih sayang dan pengorbanan harus mempersatukanmu. Bunga-bunganya mungkin bisa layu namun tali pengikatnya tetap tak berubah. Badan anda bisa diibaratkan sebagai kembang. Seiring dengan perjalanan waktu, anak-anak menjadi pemuda, pemuda menjadi bapak, dan bapak menjadi kakek. Namun rasa kasih sayang takkan pernah berubah. Dia adalah benar dan abadi.

Bahkan binatang pun memberikan bantuan kepada temannya, tetapi manusia tidak. Sapi memakan rumput dan menghasilkan susu. Namun lain manusia, ia meminum susu dan sibuk melakukan perbuatan jahat. Semangat pengorbanan yang ditemukan pada sapi tidak ada pada manusia sekarang ini.

Apa manfaat semua pendidikan yang diperolehnya bila ia tidak bisa menghilangkan sifat-sifat buruknya? Semua pendidikan duniawi hanya membuat manusia bisa berargumentasi, bukannya menjadi kebijaksanaan total. Ia tidak bisa membantu anda terbebas dari pintu kematian. Jadi, dapatkanlah pengetahuan yang bisa membuat anda abadi. (Puisi Telugu)

Pendidikan harus memungkinkan kita mengembangkan sifat-sifat suci. Pendidikan duniawi bersifat negatif dan pendidikan spiritual bersifat positif. Apa gunanya memiliki bola lampu tanpa daya listrik? Pengetahuan duniawi ibarat bola lampu dan pengetahuan spiritual ibarat tenaga listrik. Keduanya penting untuk kemajuan manusia dan dunia seluruhnya. Gunakanlah secara benar semua ilmu pengetahuan yang telah anda peroleh. Orang tua harus berperan aktif dalam mengembangkan pendidikan anak-anaknya. Jangan pernah berangan-angan agar anak anda menjadi orang yang hebat, sebaliknya berharaplah agar ia menjadi anak yang baik (saleh). Murid harus memiliki karakter Bharata.

YANG BAIK DAN YANG HEBAT
Bila kita baca naskah Ramayana, Bhagavata, dan Mahabharata, maka ia akan mengerti pengaruh jahat dari kama (keinginan), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan). Dalam epos Ramayana, Rama melambangkan kebaikan, sedangkan Rahvana lambang kehebatan. Meskipun Rama dan Rahvana sama-sama ahli dalam semua bentuk ilmu pengetahuan, namun Rahvana tidak bisa memanfaatkan ilmu pengetahuannya karena ia tidak bisa mengendalikan panca inderanya. Di lain pihak, Rama berlatih mengendalikan panca indera dan mengorbankan segala-galanya demi kebenaran. Epos Ramayana dikenal sebagai Ramacharita (cerita tentang Rama) dan cerita tentang Ravana dikenal sebagai Kamacharitra (cerita tentang keinginan).

Bhagavata menguraikan tentang akibat yang harus dipikul seseorang, bila ia menjadi korban kemarahan. Hiranyaksha dan Hiranyakasipu sama-sama kuat, namum akhirnya hancur lebur karena kemarahannya pada Tuhan. Hiranyakasipu adalah seorang ilmuwan hebat. Sekarang ini, manusia bisa mencapai bulan, sedangkan Hiranyakasipu bisa mencapai bintang-bintang. Akan tetapi, ia hancur oleh kemarahannya sendiri.

Dalam Mahabharata Duryodana dan Dussassana melambangkan keserakahan, yang merupakan kekuatan negatif. Di lain pihak, Panca Pandawa melambangkan kekuatan positif. Mereka kukuh berpegang pada dharma dalam segala situasi dan kondisi. Demikian pula dalam Bhagavata, Hiranyakasipu melambangkan kekuatan negatif dan Prahlada, melambangkan kekuatan positif. Dengan demikian, dimanapun anda berada selalu saja kita temukan positif-negatif, baik dan buruk hidup berdampingan. Terimalah kebaikan dan hilangkan keburukan serta dapatkan nama baik.

METODE DAN ALAT
Wahai Guru! Anda telah berpartisipasi dalam konferensi ini selama tiga hari. Semua anda sekalian mempunyai ide-ide mulia, namun anda harus selalu memikirkan cara terbaik untuk melaksanakan ide-ide tersebut. Pahamilah bahwa karakter adalah yang terpenting bukannya uang.

Wahai siswa! Aku ingin engkau menjadi pemimpin yang ideal. Manfaatkanlah pendidikanmu untuk melayani yang miskin. Bukalah kelas belajar gratis untuk anak-anak miskin, bagi buku-bukumu dengan mereka. Hanya dengan begitu, maka rasa persaudaraan manusia dan ketuhanan sebagai ayah akan berkembang.

Seperti yang sudah Aku nyatakan kepadamu educare memiliki dua aspek :

Pravritti (ke luar) dan
Nivritti ( ke dalam)
Tuhan adalah Hridayavasi (penghuni hati). Karena itu semua yang berasal dari hati bersifat ketuhanan/ kedewataan. Karenanya, biarkanlah pikiran, kata-kata, dan perbuatanmu keluar dari hatimu.

Lakukan yang baik, jadilah yang baik, dan lihatlah yang baik. Inilah jalan menuju Tuhan. Terimalah nikmat dan derita sebagai hadiah Tuhan. Agar sembuh dari penyakit malaria, maka pasien harus menelan pil pahit. Demikian pula halnya, kita harus menghadapi penderitaan untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena itulah, dinyatakan : “Kenikmatan adalah selingan antara dua penderitaan.” Cahaya tidak ada gunanya jika tidak ada gelap. Maka nikmat tidak ada nilainya tanpa ada penderitaan.

Wahai siswa! Kembangkanlah kesempatan pelayanan masyarakat. Tentu saja, anda memerlukan pekerjaan dan memperoleh uang. Namun jangan terlalu mengejar uang. Puaslah dengan apa yang anda peroleh. Alexander menundukkan banyak kerajaan dan mengumpulkan banyak kekayaan. Ketika ajalnya mendekat, ia mulai menyadari bahwa ia bahkan tak bisa membawanya sesen pun. Ia meminta kepada menterinya untuk tetap mengangkat tangannya di atas kepalanya selama perjalanan terakhirnya sehingga rakyat tahu bahwa bahkan Kaisar Alexander yang paling berkuasa sekalipun harus meninggalkan dunia dengan tangan kosong. Bahkan seorang miliuner sekalipun harus hanya memakan makanan, ia tidak bisa makan emas. Karena itu puaslah hanya memiliki makanan, pakaian, dan rumah (pangan, sandang, dan papan). Lakukan tugasmu dengan benar, dan lakukan pelayanan saat waktu luang. Kembangkan keyakinan pada Tuhan. Bila anda tidak yakin pada Tuhan, maka anda tidak memiliki rasa berdosa. Maka anda akan menjadi seorang raksasa. Karena itu, takutlah berbuat dosa, cintai Tuhan, amatlah penting. Bila anda memiliki keduanya maka anda akan sukses menjalani hidup anda. Pendanglah semua pekerjaan yang baik sebagai kerja Tuhan.

PERWUJUDAN KASIH SAYANG
Berhentilah bepergian ke luar negeri setelah anda menyelesaikan pendidikan anda. Layani negeri tanah airmu. Rama berkata, Janani Janmabhoomischa Swargadapi Gareeyasi (Ibu dan tanah air lebih agung dari surga). Jadi, bekerjalah untuk tanah airmu dan layani fakir miskin. Cara terbaik mencintai Tuhan adalah dengan mencintai semua dan melayani semua, tetapi layani hanya bila diperlukan. Anda lahir untuk mengalami kasih sayang. Hidupmu penuh dengan kasih sayang. Tetapi, anda tidak memahami prinsip kasih sayang ini. Tidak ada yang lebih agung daripada kasih sayang di dunia ini. Kasih sayang adalah Tuhan. Tuhan adalah kasih sayang, oleh karena itu hiduplah dalam
kasih sayang.

Bhagavan menutup wacananya dengan bhajan. “Bhava Bhaya Harana….”
Dan “Sathya Jnanam Anantham Brahma….”